Menolak Lupa, Tragedi Hillsborough Kecelakaan Mengerikan Yang Merubah Persepakbolaan Inggris

Liverpool baru saja menyelesaikan pertandingan ke 34-nya di Liga Primer Inggris semalam, seperti biasanya trio firmansah (Firmino, Mane, Salah) tampil superior, ketiganya mencetak masing-masing mencetak satu gol ke gawang yang dikawal Asmir Begovic, pasukan Jurgen Klopp masih terlalu kuat untuk ditaklukan oleh Bournemouth.

Bermain di Anfield, seperti biasanya Suporter Liverpool kompak menyanyikan lagu “You’ll Never Walk Alone”, namun kali ini sedikit istimewa sebab kopites (julukan suporter Liverpool) juga kompak melakukan koreo.

 

Image : Getty

Koreo tersebut dibuat guna mengenang tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 orang suporter Liverpool, para pemain juga turut mengheningkan cipta guna mengenang tragedi yang mengubah wajah persepakbolaan Inggris tersebut.

Sebagian dari kamu mungkin sudah mengetahui sejarah tragedi tersebut, tapi tak ada salahnya untuk mengenang kembali tragedi mengerikan tersebut, bukan untuk membuka luka lama. Namun, untuk dijadikan pembelajaran bagaimana sebuah tragedi dapat merubah citra sepakbola suatu negara.

Tepat hari ini 29 tahun yang lalu, berlangsung pertandingan semifinal Piala FA yang mempertemukan Liverpool melawan Nottingham Forrest, Stadion Hillsborough ditunjuk menjadi venue tempat berlangsungnya pertandingan.

Pertandingan dijadwalkan berlangsung pukul 15:00 waktu setempat, seperti biasa penonton diminta hadir 15 menit sebelum pertandingan.

Image : wikimedia

Tak seperti sekarang, di masa itu tribun dan lapangan dipisahkan oleh pagar pembatas yang tinggi seperti di Indonesia sekarang guna meminimalisir  penonton yang masuk ke lapangan.

Sebenarnya sebelum pertandingan dilangsungkan sempat ada penolakan dari fans Liverpool mengenai venue yang dipakai, namun panitia tetap bersikukuh untuk melangsungkan pertandingan semifinal di Stadion Hillsborough.

Tiba di hari pertandingan 15 April 1989, seperti pertandingan besar lainnya, tribun penonton dipisah guna menghindari kericuhan. Fans Nottingham Forest ditempatkan di sisi utara dan selatan yang berkapasitas 29.800 penonton sementara fans Liverpool ditempatkan di sisi barat dan timur yang berkapasitas 24.256 penonton.

Dari sini sudah terlihat kejanggalan dimana fans Liverpool yang memiliki basis suporter yang besar mendapat jatah yang lebih sedikit, panitia berdalih akan mengosongkan sebagian tribun utara dan selatan guna memberi jarak antara fans Liverpool dan Nottingham Forest.

Menurut laporan media Inggris, banyak fans Liverpool yang ingin menyaksikan laga tersebut secara langsung saat itu, meskipun stadion telah terisi penuh oleh kedua pendukung kesebelasan, namun banyak suporter yang tersisa di luar stadion memaksa untuk masuk ke dalam.

Image : remezcla

Melihat situasi tersebut, pihak keamanan memutuskan untuk membuka pintu keluar yang biasanya ditutup. Suporter yang tak bisa masuk itu pun merangsek masuk ke dealam tribun membuat penonton yang sudah ada di dalam terhimpit ke depan dan membuat pagar pembatas runtuh.

Pihak keamanan pun dituding menjadi penyebab tragedi ini, alih-alih membiarkan suporter diluar masuk ke tribun, seharusnya pihak keamanan memecah kerumunan yang berada di luar stadion daripada membiarkannya masuk.

Image : Spiked

Akibat kejadian tersebut banyak suporter yang terhimpit, tertindih, hingga terinjak oleh suporter lainnya, alih-alih menolong suporter pihak keamanan justru sibuk mencegah suporter masuk ke lapangan. Alhasil pagar pembatas pun runtuh dan penonton akhirnya meluber ke lapangan dengan kondisi mengenaskan.

Lagi, alih-alih mengevakuasi korban, pihak keamanan justru sibuk menjauhkan suporter Liverpool dari tribun Nottingham Forrest. Sebenarnya tim medis cukup sigap untuk datang ke stadion namun lagi-lagi pihak keamanan tercatat ada 44 ambulans yang bersiap untuk mengevakuasi korban di luar stadion, namun pihak keamanan justru malah membatasi ambulans yang masuk ke lapangan tercatat hanya 14 dari 96 korban meninggal yang sempat mendapat perawatan di rumah sakit.

Image : Independent

Akibat tragedi ini tercatat 96 orang meninggal dunia dengan usia antara 10-67 tahun, 94 orang diantaranya meninggal ditempat, di ambulans, atau sesaat setelah tiba di rumah sakit. 1 orang meninggal satu bulan kemudian setelah hidup dengan alat bantu, 1 orang sisanya meninggal 4 tahun kemudian setelah 4 tahun koma. Sementara itu 799 orang luka-luka.

Tragedi ini pun mengundang banyak reaksi dari seluruh dunia, ucapan duka pun disampaikan para pemimpin dunia, seperti dari Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, Paus John Paul II, presiden Amerika Serikat George HW Bush dan banyak lagi yang lainnya.

Tragedi Hillsborough dianggap sebagai insiden terburuk dalam sejarah pertandingan olahraga di Inggris. Tragedi ini mendapatkan sorotan luas, terutama dari Pemerintah Inggris itu sendiri. Melihat masalah-masalah yang terjadi pada Tragedi Hillsborough, membuat mereka mengevaluasi secara menyeluruh penyelenggaraan sepakbola di Inggris hingga infrastrukturnya.

Image : Irishtimes

Dari insiden ini tercipta sejumlah rekomendasi mengenai aspek keamanan di stadion. Dalam laporannya, Peter Taylor dari Departemen Kehakiman Inggris menyebut soal merevolusi desain stadion-stadion di Inggris, salah satunya dengan menghilangkan pagar dan menghapuskan tribun berdiri.

Taylor menyebut kehadiran pagar pembatas dianggap sebagai “kandang hewan”. Taylor merasa kalau pagar pembatas akan menjadi alasan untuk tragedi-tragedi selanjutnya. Ia pun melawan ide pemasangan pagar pembatas untuk semua stadion di Inggris, meski mungkin saja aksi hooliganisme terjadi di mana suporter mengganggu jalannya pertandingan dengan masuk ke lapangan.

Kehadiran pagar pembatas antar sektor pun membatasi ruang gerak suporter untuk evakuasi. Lambat laun setelah stadion dibuat all-seater, pagar pembatas antar sektor tidak lagi diperlukan.

Tragedi Hillsborough terjadi karena pengawasan tribun yang buruk. Padahal, ruang kontrol tepat berada di depan tribun barat sehingga semestinya petugas yang berwenang tahu apa yang mesti dilakukan. Nyatanya hal itu tidak terjadi dalam Tragedi Hillsborough. Petugas berwenang terkesan membiarkan dan tidak melakukan upaya reaktif yang cepat untuk meminimalisasi korban.

Image : Getty

Taylor pun menyarankan agar ditempatkannya pengawas yang memerhatikan tribun secara seksama. Hal ini kemudian diterapkan dalam bentuk pemasangan CCTV dan penempatan steward di depan tribun.

Tragedi Hillsborough kerap diakaitkan dengan sejumlah suporter yang dianggap berada dalam pengaruh alkohol. Dalam laporannya, Taylor pun menyoroti hal ini. Berdasarkan saksi, banyak dari penggemar Liverpool yang berkumpul di kedai bir. Beberapa dari mereka pun membawa minuman beralkohol.

Dengan kondisi dipengaruhi alkohol, akan sulit buat penyelenggara mengajak suporter untuk kooperatif. Hal ini mungkin saja menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Di era Liga Inggris saat ini, mengonsumsi alkohol di tribun adalah sesuatu yang dilarang. Suporter bisa meminumnya di area penjualan di sekitar stadion namun dilarang membawanya masuk.

Tragedi Hillsborough pun mengubah wajah persepakbolaan Inggris yang sebelumnya tak teratur dan tak aman untuk anak anak menjadi liga yang paling tertib dan aman untuk disaksikan keluarga.

Comments via FB
72 Views

Beli selasih sama mbak Ica
Beli geliga sama mbak Sonya
Terimakasih sudah membaca
Baca juga artikel lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *