Takut tidur sendirian, Pasangan Ini Memutuskan Menikah Dini

Image: Tribunnews

Kantor Urasan Agama (KUA) Kecamatan Bantaeng, Sulawesi Selatan, dikejutkan sejoli yang masih duduk di bangku SLTP datang untuk mengajukan permohonan untuk menikah.

Hal ini sempat membuat kaget Syarif Hidayat, Penghulu Fungsional Kantor Urusan Agama, Kecamatan Bantaeng. Syarif beralasam bahwa kedua calon pengantin ini seharusnya tidak boleh menikah dan seharusnya masih menjalani pendidikan dan faktor usia kedua calon mempelai masih tergolong terlalu dini untuk menikah, yakni calon mempelai pria masih berusia 15 tahun 10 bulan dan calon mempelai wanita masih 14 tahun 9 bulan. Kendati keduanya sempat ditolak pencatatan dan mendapatkan blanko N9 (penolakan pencatatan) dari pihak Kantor Urusan Agama (KUA), pasangan calon pengantin akhirnya bisa menikah secara resmi karena mempunyai surat pengecualian (dispensasi) dari Pengadilan Agama (PA).

Ketika ditanyai alasannya mengapa memilih nikah muda, calon pengantin wanita mengaku takut tidur sendirian di rumahnya setelah ibunya meninggal setahun lalu sementara ayahnya selalu diluar kota untuk bekerja dan memilih untuk menikah dini agar menghindari perbuatan zina.

Pernikahan sejoli ini masih menjadi perbincangan hangat oleh netizen dan salah satunya ketua Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinas PMDPPPA Bantaeng, Syamsuniar Malik menyayangkan pernikahan keduanya. Syamsuniar mengecam tindakan pernikahan dini tersebut karena keduanya dianggap melalaikan pendidikan yang seharusnya didapatkan di usianya.

Dalam kasus ini, peran orangtua dan lingkungan setempat sangat dibutuhkan agar bisa mengantisipasi kejadian pernikahan dini seperti ini di kemudian hari dengan memberikan edukasi yang mumpuni.

Sebelum abad ke-20an, mungkin pernikahan dini adalah hal biasa-biasa saja dan sudah umum terjadi terutama dikalangan proletariat yang terkadang menikah karena tuntutan sosial maupun orangtua. Namun, sejak terjadinya era reformasi pendidikan, pernikahan dini mendapatkan stigma sosial. Masyarakat dituntut untuk mapan dalam segi finansial dulu sebelum menjalin hubungan serius untuk menghindari kasus cerai. Maka dari itu, memberikan pendidikan sangatlah krusial demi masa depan anak yang lebih cerah dan mendidika anak agar terhindar dari jeratan stigma yang menjadi sasaran empuk bagi masyakarat kita yang suka mengurusi-urusan orang.

17 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *