Belasan Tahun Berpisah Dari Indonesia, Apakah Timor Leste Baik-Baik Saja?

20 Mei 2002 mungkin akan menjadi hari yang paling bersejarah bagi Timor Leste. Pasalnya di waktu itu negara yang pernah menjadi salah satu provinsi di Indonesia tersebut resmi memisahkan diri dari Indonesia dan menyatakan kemerdekaannya.

Ternyata setelah 16 tahun berpisah dari Indonesia, Timor Leste mampu menjadi negara dengan kebebasan pers lebih baik daripada Indonesia sendiri.

Dirangkum dari Reporters Without Borders (RSF), negara yang menyatakan kemerdekaannya pada 2002 lalu tersebut menduduki peringkat ke-95 dari total 180 negara yang disurvei. Sedangkan Indonesia berada di posisi 124.

Indikasi tersebut diperoleh oleh RSF melalui data yang menunjukkan bahwa di Timor Leste sejauh ini belum pernah memenjarakan jurnalis akibat profesinya, meski beberapa pernah menerima ancaman dari berbagai pihak.

Namun kebebasan pers tersebut belum bisa menggambarkan bahwa negara yang pernah menjadi bagian Indonesia di masa awal reformasi tersebut aman dan stabil. Bahkan baru-baru ini negara bekas jajahan Portugis tersebut telah mengadakan pemilu untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Dalam pemilu parlemen sebelumnya pada Juli 2017 berakhir dengan kebuntuan. Hal tersebut memaksa warga Timor Leste harus kembali lagi memilih pada 12 Mei 2018.

Dilansir dari Asumsi.com, Seorang guru sekolah bernama Abel Da Costa, di daerah Manlueana, Dili, mengatakan bahwa, ia tak peduli siapa pun yang akan menang, asalkan negara tersebut memiliki pemerintah.

“Kami hanya bisa menunggu pemerintahan yang stabil supaya kami bisa meminta pertolongan,” sebut Da Costa, pria berusia 66 tahun yang berharap bisa melihat gedung sekolahnya terperbaiki.

Permasalahan dari kekosongan kursi pemerintahan mempengaruhi kehidupan rakyat. Banyak sektor penting seperti ekonomi yang terbengkalai. Hal ini yang dirasakan oleh Da Costa, gaji yang tak kunjung tiba kepada para pengajar dan juga dana bagi pembangunan negri itu sendiri.

Sejatinya negara begas jajahan bangsa Portugis ini memang memiliki sejarah yang sangat kelam, sering terjadi konflik berdarah ditubuh negri ini. Pada tahun 2006, belasan orang tewas akibat sumbu konflik politik yang menjalar kejalanan.

Akhir-akhir ini juga sempat terjadi kerusuhan antar pendukung Fretilin dan CNRT, dua kubu politik yang bersebrangan pada pemilu sejak 2017 lalu. Konflik ini mengakibatkan 16 orang terluka dan beberapa kendaraan dibakar.

Hal ini juga mungkin bisa menjadi cermin Indonesia ditahun politik. Semakin dekat dengan tahun politik, semakin kencang pula isu-isu yang berakhir konflik terjadi. Semoga dengan bahan cerminan tersebut, masyarakat Indonesia mampu lebih bersikap dewasa dalam memandang politik agar tidak menimbulkan perpecahan dan berujung konflik.

Comments via FB
576 Views

Menulis adalah profesi keabadian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *