Pisang Kapik, Jajanan Tradisional Khas Bukittinggi

Ranah Minang memang dikenal sebagai tempat yang kaya akan segalanya. Dari segi tempat wisata hingga kulinernya pun sudah tidak perlu diragukan lagi. Salah satu yang tidak boleh dilewatkan adalah ketika berwisata ke Kota Jam Gadang, Bukittinggi. Di kota dingin ini, ada sebuah jajanan yang nikmat teramat sangat yaitu Pisang Kapik.

Biasanya pisang kepok disajikan dengan cara digoreng. Akan tetapi, pisang kapik menawarkan sensasi yang berbeda. Ya, sesuai namanya pisang kapik adalah pisang yang dipanggang lalu kemudian dikapik atau dalam bahasa kita mengenalnya dengan kata “jepit”.

Pisang Kapik barangkali masih sedikit asing untuk sebagian orang, terutama untuk mereka yang di luar Sumatera Barat. Ya, pisang kapik adalah salah satu jajanan yang bisa dijumpai di Pasar Atas Bukittinggi. Letaknya pun tak terlalu sulit untuk ditemukan, sebab penjual pisang kapik letaknya tidak begitu jauh dari Jam Gadang sebagai ikon Kota Bukittinggi, yakni di Kawasan Pasar Atas Bukittinggi.

Jajanan tradisional ini dijual dengan harga yang tidak terlalu memberatkan kantong. Cukup dengan tujuh ribu rupiah saja, pembeli bisa menikmati pisang panggang yang dibubuhi parutan kelapa dan sudah terlebih dahulu dicampur dengan gula merah. Sementara itu untuk pisang yang berukuran sedikit lebih besar, pembeli harus merogoh kocek sebesar sepuluh ribu.

“Pisang kapik tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Bukittinggi,’ ujar Bu Anik sambil memanggang puluhan pisang di hadapannya. Bu Anik tidak sendirian, ia beserta keluarganya telah lama berjualan di Pasar Atas. Bu Anik, Bu Ita, Bu Zulsafni, dan Bu Asni. Mereka telah memulai usaha Pisang Kapik sejak tahun 1980. “Kelapa sebenarnyakan cepat basi, nah dengan dicampur gula merah nantinya pisang ini bisa tahan lama. Bisa sekitar dua hari,” sambungnya.

Penyajian pisang kapik juga terbilang masih sangat-sangat tradisional. Pisang dipanggang di atas bara arang yang terbuat dari tempurung kelapa. Setelah dirasa cukup matang, pisang akan dikepit dengan penjepit. Itulah alasan mengapa makanan ini dinamai pisang kapik. Setelah itu, pisang tadi dibubuhi oleh unti kelapa.

Nikmat, bukan? Kenikmatan ini akan semakin terasa saat memakannya di tengah cuaca dingin Kota Bukittinggi. Ditemani Jam Gadang yang berdiri kokoh di Pasar Atas, serta menikmati Gunung Merapi dan Singgalang. “Pisang kapik juga cocok dijadikan menu sarapan pagi ditemani segelas teh hangat. Kami mulai berjualan dari pagi, hingga senja,” tandas Bu Anik.

Comments via FB
105 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *