22 Menit, Film Laga yang Sebenarnya Menggantung

Untuk mematangkan konsep dari sebuah film, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Tak bisa tergesa-gesa, apalagi kejar tayang seperti layaknya FTV. Sebab, nanti akan sama seperti 22 Menit. Film yang terkesan menggantung, tidak jelas apakah mereka akan mempermainkan emosi penonton hanya sekadar memberikan gambaran nyata terkait dengan aksi teror yang terjadi di Perempatan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada 14 Januari 2016 pukul 10.40 WIB.

Film ini terlalu banyak bercerita, seperti yang diungkapkan seorang penyiar radio di pagi hari yang akan kamu lihat di film ini. Film yang di awal menceritakan tentang kegelisahan seorang Ade Firman Hakim, yang di film ini adalah seorang polisi dengan nama Firman. Kegalauan Firman karena hubungannya nyaris kandas dengan sang pacar pun terkesan hanya sekadar untuk menambah-nambah bumbu kegalauan belaka. Seperti biasa, Firman meminta wejangan dari teman-teman kantornya. Begitu juga dengan sang pacar yang hanya bisa mengobrol dengan teman sekantor.

Film ini juga tidak mengambil cerita dari hanya satu sudut pandang, ada Anas yang diperankan oleh Ence Bagus. Peran yang dimainkan oleh Anas sebagai Office Boy pun tidak bisa dibilang buruk. Cukup baik, sebenarnya. Karakter ndeso yang sangat melekat dari seorang Ence Bagus pun bisa dikatakan berhasil dalam meraup perhatian penonton. Dimulai dari keinginan sang kakak melamar di kantornya, ia pun setuju dan menunggu kehadiran sang kakak yang memiliki tekad yang kuat untuk berubah setelah usaha miliknya bangkrut.

Seorang wanita yang bernama Mitha, yang diperankan Hana Malasan menjadi pengunjung kedai kopi sedang sibuk menghubungi temannya. Ia sedang sibuk dengan dunianya sendiri, seraya bercengkerama dengan membahas turins asing di hadapannya. Dari sinilah gerak-gerik pelaku teror mulai dimunculkan.

Selanjutnya, peran penting yang tak bisa dilepaskan dari awal sampai akhir cerita adalah peran dari seorang Ardi yang diperankan Ario Bayu. Mungkin apabila ada peran seorang polisi pemberani yang layak dinobatkan menjadi seorang pahlawan, beliau mungkin masuk dengan suara terbanyak. Ardi yang juga merupakan seorang ayah, di awal film diperlihatkan sebagai ayah yang sangat sayang terhadap keluarganya. Sampai-sampai sang istri memintanya untuk pulang ke rumah agar bisa makan malam bersama. Apakah ia pulang? Tidak tahu. Yang jelas, ia masih menginterogasi seorang pelaku teror. Ya, pelaku teror yang wajahnya selalu muncul di setiap kejahatan terorisme berlangsung. Lantas, kenapa hanya ia sendiri yang menginterogasi? Di tempat gelap, yang barangkali hanya mereka berdua yang ada di gedung tersebut. Nobody Knows.

Film ini juga mengangkat tema tentang betapa berartinya seorang sahabat, bagaimana kehilangan anggota keluarga yang tentu saja akan mengiris hati siapa saja yang menjadi korban dari Bom Sarinah tersebut. Namun, sayang semuanya serba tanggung. Permainan perasaan yang ada di film tersebut hanya sekadar menyentuh tapi tidak secara menyeluruh. Sebab semuanya tertutupi karena superioritas dari pihak kepolisian. Ya, memang 22 menit waktu yang dibutuhkan oleh pihak kepolisian untuk meringkus teroris saat Bom Sarinah alias Bom Thamrin terjadi di Jakarta, Januari 2016 lalu.

Unsur komedi dari film ini? Tidak terlalu buruk, karena ini memang bukan film komedi. Ya, begitulah. 22 Menit memang barangkali hanya 70% saja unsur kenyataannya, dan 30% dari apa yang kita tonton adalah fiksi. Walaupun dari secara logika film ini seperti film-film kejar tayang atau bahkan film FTV yang kita tonton di televisi, film ini memiliki efek visual yang cukup mumpuni. Eugene Panji dan Myrna Paramita bisa menutupi segala celah yang ada lewat hal ini.

 

Comments via FB
220 Views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *